Ruri Febriani (13322399), Analisis Komperatif Biaya dan Pendapatan Budidaya Tebu Sistem Tanam Baru dengan Sistem Kepras ( Studi Kasus di Ds. Tugurejo Kec. Ngasem Kab. Kediri ).

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN

Ruri Febriani (13322399), Analisis Komperatif Biaya dan Pendapatan Budidaya Tebu Sistem Tanam Baru dengan Sistem Kepras ( Studi Kasus di Ds. Tugurejo Kec. Ngasem Kab. Kediri ).

Biaya yang di keluarkan petani tebu sistem tanam baru dengan sistem kepras sama-sama relatif besar. Kenyataan nya petani tebu sistem tanam baru dengan sistem kepras mendapatkan areal tanamnya dengan harga sewa lahan yang cukup besar dan biaya produksi yang besar pula. Namun sejauh ini belum diketahui berapakah biaya dan pendapatan para petani tebu sistem tanam baru dengan sistem kepras.

Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui :

  • Untuk mengetahui perbandingan biaya antara hasil system bibit baru dengan system kepras.
  • Untuk mengetahui perbandingan pendapatan antara hasil sistem bibit baru dengan sistem kepras.

Penelitian ditentukan secara sensus di Desa Tugurejo Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri. Sengaja di pilih karena masih banyak terdapat petani tebu. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengamatan (observasi) dan sensus. Dimana seluruh sampel di daerah penalitian sebagai narasumber di wawancarai karena dianggap orang tersebut tahu dan memahami tentang tanam tebu sistem tanam baru dengan sistem kepras. Banyaknya petani dari seluruh sampel yang di ambil adalah sebanyak 26 petani, 13 petani tebu sistem tanam baru dan 13 petani tebu sistem kepras. Dari seluruh petani tersebut di ambil sebagai sampel.

Kesimpulan dari hasil penelitian yang diperoleh adalah :

  1. Tebu Sistem Tanam baru
  2. Biaya yang harus dikeluarkan petani tebu sistem tanam baru sebesar Rp 54.833.791 per hektar.
  3. Produksi tebu yang dihasilkan sistem tanam baru sebesar 1341 Kw per hektar.
  4. Penerimaan dari hasil produksi tebu sistem tanam baru sebesarRp 63.379.121 per hektar.
  5. Pendapatan petani tebu sistem tanam baru sebesar Rp 8.545.330 per hektar.
  6. Tingkat efisiensi usahatani tebu sistem tanam baru 1,16.
  7. Tebu Sistem Kepras
  8. Biaya yang harus dikeluarkan petani kepras sebesar Rp 46.214.286 per hektar.
  9. Produksi tebu yang dihasilkan sistem kepras sebesar 1154 Kw per hektar.
  10. Penerimaan dari hasil produksi tebu sistem kepras sebesar Rp 56.815.862 per hektar.
  11. Pendapatan petani tebu sistem kepras sebesar Rp 10.601.576 per hektar.
  12. Tingkat efisiensi usahatani tebu sistem kepras sebesar 1,23

FAHMI MUZAIYANA (NPM : 13312548). Pengaruh Konsentrasi IBA dan BA Terhadap Multiplikasi Planlet Tanaman Kentang (Solanum Tuberosum L) Secara In Vitro.

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN

FAHMI MUZAIYANA (NPM : 13312548).  Pengaruh Konsentrasi IBA dan BA Terhadap Multiplikasi Planlet Tanaman Kentang (Solanum Tuberosum L) Secara In Vitro. Dibawah bimbingan Putu Ngurah Widjaja (DPU) dan Edy Kustiani (DPA).

             Percobaan bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh IBA dan BA berbagai taraf terhadap multiplikasi planlet tanaman kentang. Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan UPT. Kebun Benih Hortikultura Sidomulyo Batu, pada bulan januari sampai maret 2017. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial, terdiri dari 2 faktor yaitu IBA dan BA sehingga menghasilkan 16 kombinasi perlakuan. Analisis data menggunakan Anova yang dilanjutkan dengan DMRT 5%.

             Hasil penelitian yang diperoleh dari perlakuan IBA dan BA diberikan terhadap pertumbuhan tunas terbanyak pada I2B4 yaitu 5.67, pada pertumbuhan akar terbanyak pada I2B2 dan I4B1 yaitu 9.33, pada pertumbuhan daun terbanyak pada I3B2 yaitu 17, pada pertumbuhan planlet tertinggi pada I2B3 yaitu 11.87 cm, dan I3B3 yaitu 11.9 cm, dan pada berat basah planlet yang teroptimum pada perlakuan I2B2 yaitu 251.13 mg, dan berat kering planlet yang teroptimum juga pada perlakuan I2B2 yaitu 16 mg.

Fatkhul Munir, (13312505) PENGARUH DOSIS PUPUK ORGANIK KOTORAN SAPI PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BAYAM CABUT (Amaranthus L).

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN

Fatkhul Munir, (13312505) PENGARUH DOSIS PUPUK ORGANIK KOTORAN SAPI PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BAYAM CABUT (Amaranthus L). Bimbingan Ir. SUPANDJI, MP. (DPU) dan           Ir. SAPTORINI, MP. (DPA).

            Bayam merupakan tanaman semusim, berbentuk peredu atau semak yang banyak digemari oleh seluruh lapisan masyarakat di seluruh Indonesia. Tanaman bayam sebagai sayuran daun sudah lama dikenal masyarakat luas, karena pengaruhnya besar sekali dalam  kaitan dengan perbaikan ekonomi rumah tangga, khususnya penyediaan pangan bergizi dan juga sumber tambahan pendapatan (penghasilan) keluarga. Pusat penanaman bayam di Indonesia adalah Jawa Barat (4.273 hektar), Jawa Tengah (3.479 hektar), Jawa Timur (3.022 hektar).

Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh dosis kompos kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman  bayam cabut (Amaranthus Sp.)

Hipotesis diduga pemberian kompos kotoran sapi  dengan dosis 2 kg / polibag pemberian dosis terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman  bayam cabut (Amaranthus Sp.)

Percobaan dilakukan di greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Kadiri, Jl. Selomangleng No. 1 Kediri Jawa Timur – Indonesia. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dosis kompos kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan  produksi tanaman bayam cabut.

Percobaan  ini dilakukan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 ulangan dan 5 perlakuan. perbandingan  K1 : 1 kg Kompos dan 3 kg tanah, K2 : 1,5 kg Kompos dan 2,5 kg tanah, K3 : 2 kg Kompos dan 2 kg tanah, K4 : 2,5 kg Kompos dan 1,5 kg tanah, K5 : 3 kg Kompos dan 1 kg tanah.

Dari hasil percobaan ini dapat disimpulkan  bahwa tidak terjadi pengaruh yang nyata terhadap semua variabel pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman, jumlah daun,dan luas daun,serta terhadap produksi tanaman bayam berat basah dan berat kering.

JUNI RIANDOKO (14322412). Studi Komparatif Pendapatan Petani Nanas Sistem Mitra Tani dan Sistem Kerja Sama Usaha (KSU) di Lahan PTPN XII Kebun Ngrangkah Pawon Kediri (Studi Kasus di Desa Sepawon,Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri)

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN


JUNI RIANDOKO (14322412). Studi Komparatif Pendapatan Petani
Nanas Sistem Mitra Tani dan Sistem Kerja Sama Usaha (KSU) di Lahan PTPN XII Kebun Ngrangkah Pawon Kediri (Studi Kasus di Desa Sepawon,Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri)
, dibawah bimbingan Ir. WidiArtini, MP (Dosen Pembimbing Utama) dan Ir. Hj. Wiewik Andajani, MM(Dosen Pembimbing Anggota).
Kerja sama pertanian nanas di PT. Perkebunan Nusantara XII Kebun Ngrangkah Pawon Kediri adalah suatu kerjasama antara dua belah pihak yaitu pihak perkebunan sebagai pihak pemilik lahan pertanian yang menyiapkan lahan pertanian untuk disewakan kepada petani sebagai pihak penyewa lahan perkebunan sekaligus pihak penggarap untuk ditanami komoditi yang sudah ditentukan aturannya oleh pihak perusahaan salah satunya adalah komoditi hortikultura tanaman nanas dengan konsep kerja sama pemanfaatkan lahan perkebunan untuk tujuan menambah pendapatan perusahaan maupun pendapatan petani disekitar perusahaan yang menyewa lahan.
Dengan pemanfaatan dua tipe lahan perkebunan oleh perusahaan kepada petani disekitar area perkebunan, perusahaan berharap pendapatan perusahan maupun petani mengalami peningkatan sesuai dengan hasil pertanian dalam kerja sama antara dua belah pihak yang dipilih oleh petani sesuai dengan nota kesepakatan perjanjian bersama,
v selain itu perusahaan juga berharap dengan pemanfaatan lahan ini, tanaman pokok perusahaan akan terjaga dan aman dari perusakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Penentuan daerah penelitian ditentukan secara porposiv di Desa Sepawon Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Dipilihnya daerah ini karena Desa tersebut terdapat perusahaan negara (BUMN) Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang tanaman perkebunan yang dalam pengelolaannya ada kawasan lahan yang dijadikan tempat kerja sama antara pihak perusahaan yaitu PT. Perkebunan Nusantara XII Kebun Ngrangkah Pawon Kediri dengan petani disekitar wilayah Desa Sepawon dengan sistem Mitra Tani dan Sistem Kerja Sama Usaha (KSU).
Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui perbandingan tingkat pendapatan bersih petani nanas rata – rata per hektar lahan tanam, serta menyimpulkan efisiensi usaha tani (R/C Rasio) dan Kelayakan Usaha tani (B/C Rasio ) untuk dapat dikembangkan usahanya kedepan. Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang usaha tani nanas sistem mitra tani dan sistem kerja sama usaha (KSU) di lahan PT. Perkebunan Nusantara XII Kebun Ngrangkah Pawon Kediri, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
a. Total biaya produksi yang dipergunakan oleh petani nanas sistem  mitra tani adalah Rp. 66.291.050,- lebih besar dari pada biaya total produksi nanas yang dipergunakan oleh petani nanas sistem kerja
vi sama usaha (KSU) yaitu Rp. 57.474.333,33,-. Biaya ini meliputi biaya sewa lahan, biaya alat –alat produksi nanas , biaya bibit, biaya pupuk, biaya obat – obatan dan biaya tenaga kerja.
b. Produksi nanas rata rata per hektar untuk sistem mitra tani adalah 94.917 nanas sedangkan sistem kerja sama usaha (KSU) 80.000 nanas.
c. Penerimaan rata – rata per hektar petani nanas sistem mitra usaha adalah sebesar Rp. 110.264.583,33,- lebih rendah dari penerimaan petani nanas sistem kerja sama usaha (KSU) adalah sebesar Rp. 119.486.476,19,-
d. Pendapatan bersih atau keuntungan dari usaha tani nanas rata – rata per hektar untuk sistem mitra tani adalah sebesar Rp. 43.973.533,33,- lebih rendah dari pada keuntungan yang diperoleh petani nanas sistem kerja sama usaha (KSU) adalah sebesar Rp. 62.012.142,86,-

e. Efisiensi usaha tani nanas atau R/C Rasio untuk sistem mitra tani
adalah sebesar 1,64 lebih kecil dari pada R/C Rasio sistem kerja sama usaha (KSU) sebesar 2,08.
f. Kelayakan usaha tani nanas atau B/C Rasio untuk sistem mitra tani adalah 0,64 lebih kecil dibanding B/C Rasio sistem kerja sama usaha (KSU) sebesar 1,08 menyimpulkan bahwa usaha tani nanas sistem kerja sama usaha (KSU) lebih layak diusahakan dan dikembangkan.

CAHYO ASRIWAHYU PRATAMA (NPM :14322410). Analisis Kepuasan Petani Bawang Merah (Allium ascolonicum, L) Terhadap Kinerja Pelayanan PPL Dan Penanganan Pupuk Bersubsidi.

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN

             CAHYO ASRIWAHYU PRATAMA (NPM :14322410). Analisis Kepuasan Petani Bawang Merah (Allium ascolonicum, L) Terhadap Kinerja Pelayanan PPL Dan Penanganan Pupuk Bersubsidi. Dibawah Bimbingan Ir.WidiArtini., MP (DPU) dan Ir.WiwiekAndajani., MP (DPA).

            Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kualitaskinerjapelayanan PPL dan penanganan pupuk bersubsidi terhadap tingkat kepuasan petani bawang merah, serta untuk mengetahui kepuasan petani bawang merah terhadap kinerja pelayanan PPL dan penanganan pupuk bersubsidi.

             Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik danstatistikdengan metode pendekatan kualitatif, pelaksanaannya menggunakan teknik survei. Penelitian ini dilakukan di DesaNglinggo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk. Pengambilan sampel dilakukan kepada petani bawangmerah sebanyak 30 orang dengan golongan petani berdasarkan luas lahan yang dibagi menjadi 3 Strata. Strata I berjumlah 14 orang petani dengan luas lahan < 0,50 ha, Strata II berjumlah 9 orang petani dengan luas lahan 0,51 – 1,00 ha, dan Strata III berjumlah 7 orang petani dengan luas lahan > 0,101 ha. Metode pengambilan petani sampel dilakukan dengan metode Stratified Random Sampling. Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder dengan teknik observasi, wawancara, pencatatandangabunganketiganya.

            Dalam penilaian kinerja pelayanan PPL diukur menggunakan 5 dimensi kualitas pelayanan yaitu Tangible, Reability, Responsiveess, Assurance dan Empathy. Sedangkan kinerja PPL dalam menangani pupuk bersubsi di diukur menggunakan lima komponen utama yaitu kualitas pupuk, harga pupuk, kualitas pelayanan, faktor emosional, dan jalur akses pupuk.

ANALISIS PERANAN PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PEDESAAN (PUAP) TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI PADI

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

ABSTRAK

 

Oleh

Samurti

       Program Pengembangan Usaha AgribisnisPerdesaan yang dikenal dengan sebutan PUAP adalah bagian dari pelaksanaan program PNPM-M melalui bantuan modal usaha dalam menumbuh kembangkan usaha agribisnis sesuai dengan potensi pertanian desa sasaran.Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan program yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan antarwilayahdansektor.Penyelenggaraan Program PUAP di Desa Mekikis Kecamatan Purwoasri akan menjadi stimulus bagi petani untuk memberikan reaksi atau tanggapan terhadap Program PUAP.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara mendalam Dampak dari Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan Terhadap Peningkatan Produksi dan Pendapatan Usahatani Di Desa Mekikis KecamatanPurwoasri Kabupaten Kediri.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan dengan pendekatan kuantitatif. Metode dasar penelitian yang digunakan adalah metode survey, metode penentuan daerah peneletian ditentukan secara purposive yaitu secara sengaja di Desa Mekikis Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri, metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling acak sederhana (Simple Random Sampling), data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain menggunakan metode observasi, wawancara, dan kuisioner. Tahap analisis data dilakukan dengan cara kuantitatif dan kualitatif, Peneliti menggunakan Uji T (t-test) dengan menggunakan Uji t berpasangan. Hasil dankesimpulandaripenelitianinimenunjukkanbahwadampak program pengembangan usaha agrinisnis (PUAP) di desaMekikisadalahpositifsetelahadanya program PUAP oleh pemerintah.Hasil dari program ini yaitu kegiatan yang pertama dari dampak program PUAP ialah para petani memperoleh hasil produksi dan pendapatan yang lebih baik dari pada sebelumnya. Hal ini karena hasil produksi dari para petani tersebut lebih berkualitas, sehingga harga dari hasil produksi tersebut lebih tinggi. Selain itu kegiatan yang kedua ialah masyarakat petani setempat dapat memperoleh pupuk dengan mudah, hal ini karena pupuk telah disediakan oleh pemerintahuntukmenunjanghasilpanen. Dan pupuk yang diberikanolehmasyarakatpetanitersebutdibagisama rata denganpetanilainnya. Serta kegiatan yang ketigadariadanya program PUAP denganadanyasimpanpinjaminimemudahkanpetanidalammendapatkanpembiayaanproduksiuntukagribisnis yang merekakelolasehinggamenimbulkanhasilproduksi yang lebihbanyakdibandingkansebelumnyakarenamerekamendapatkan modal tambahan.

Kata kunci: PUAP, Petani

AHMAD JAILANI (NPM : 13322377). Analisis Biaya dan Pendapatan Usaha Tani Semangka Biji (Citrullus Vulgaris, S).

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN

               AHMAD JAILANI (NPM : 13322377). Analisis Biaya dan Pendapatan Usaha Tani Semangka Biji (Citrullus Vulgaris, S). Dibawah Bimbingan Ir. Eko Yuliarsha Sidhi., MP (DPU) dan Ir. Tutut Dwi Sutiknjo., MP (DPA).

             Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang bertujuan untuk mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan oleh petani, untuk mengetahui penerimaan dan pendapatan usahatani yang diterima oleh petani, menganalisis besarnya R/C ratio dalam usaha tani dan menganalisis faktor-faktor produksi yang mempengaruhi jumlah hasil produksi dalam usaha tani semangka biji.

              Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik dan pelaksanaannya menggunakan teknik survey. Penelitian ini dilakukan di Desa Jaan, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil petani semangka biji seluruhnya sebanyak 30 orang dengan golongan petani berdasarkan luas lahan yang dibagi menjadi 3 Strata. Strata I berjumlah 8 orang petani dengan luas lahan < 0,24 ha, Strata II berjumlah 14 orang petani dengan luas lahan 0,25 – 0,40 ha, dan Strata III berjumlah 8 orang petani dengan luas lahan > 0,41 ha. Metode pengambilan petani sampel dilakukan dengan metode Stratified Random Sampling. Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder dengan teknik observasi, wawancara, dan pencatatan.

            Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani semangka biji diperoleh Rata-rata total biaya usahatani semangka biji yang dikeluarkan oleh petani adalah sebesar Rp 8.529.909,00/UT/MT. Sehinggarata-rata penerimaandanpendapatan usaha tani semangka biji yang diterima oleh petani sebesar Rp 16.814.791,00/UT/MT dan Rp 8.284.882,00/UT/MT.  Berdasarkan perhitungan diperolehhasilR/C Ratio 1,97 yang menyatakan bahwa usaha tani semangka biji di Desa Jaan menguntungkan dan dapat dijalankan karena R/C > 1. Untuk mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani dilakukan pengujianstatistic hipotesamenggunakanUjiR2, Uji F, danUji T, pengolahan data menggunakan program Microsoft excel dan di peroleh hasil bahwadiantarakelimavariabel bebasternyatahanya luaslahanyang secara signifikan berpengaruh terhadap jumlahhasilproduksi.Selanjutnyadiperolehdata  analisis regresi linier berganda sebagai berikut:

Y = 883,62  + 6874.00X1 + 0,0011X2 + 0,000042X3 – 0,000022X4 + 0,00065X5.

 

Analisis Ekonomi tanaman cabai tumpangsari tomat dengan menggunakan mulsa di lahan kawasan hutan ADIT KURNIAWAN (NPM 13322378)

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN

ADIT KURNIAWAN (NPM 13322378). Analisis Ekonomi tanaman cabai tumpangsari tomat dengan menggunakan mulsa di lahan kawasan hutan di desa Manggis kecamatan Puncu kab. Kediri, dibawah bimbingan Ir. Widi Artini ( DPU ) dan Ir. Djoko Rahardjo, Mp ( DPA )

            Komoditas sayuran memiliki nilai ekonomis cukup tinggi, dengan tingkat permintaan terhadap komoditas sayuran yang cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Komoditas sayuran merupakan produk yang memiliki potensi pasar yang terbuka lebar, permintaan terhadap komoditas ini diprediksi akan terus meningkat dari tahun ketahun, salahsatu penyebab peningkatan ini adalah pertambahan jumlah penduduk dengan laju berkisar 1,8% per tahun Sayuran yang memiliki nilai ekonomis tinggi tersebut adalah tomat dan cabai karena kedua komoditas tersebut merupakan komoditas multiguna. Selain berfungsi sebagai bumbu masak dapat juga dimanfaatkan sebagai buah meja, bahan pewarna, bahan kosmetik, bahan baku industri hingga bahan dasar obat-obatan, sehingga permintaan terhadap komoditas tomat dan cabai sangat tinggi.

           Teknologi Tumpang sari tanaman cabai dan tomat di desa Manggis cara Pengolahan tanah dilakukan secara sempurna pertama pembajakan dengan tenaga hewan, kemudian penggemburan selanjutnya dibuat bedengan (gulutan) dengan ukuran lebar 1,2 meter, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan, kemudian ditutup denganmulsaplastikhitamperakatauplastikmulsaperakmulsa yang di keluarkan rata-rata setiappetanisebanyak 100 kg padalahan 0,30 ha. Sebelum ditutup mulsa, bedengan di taburi dengan pupuk organik dengan dosis 1,995 kg untuk lahan 0,30 Ha.

            Teknologi tanam tumpangsari pada tanaman cabai dan tomat dengan menggunakan mulsa di lahan kawasan hutan mampu memberikan dampak positif yang cukup signifikan kepada petani, salah satunya adalah efisiensi dalam penggunaan input produksi seperti pupuk, obat-obatan, dan tenagakerja .Biaya rata-rata usaha tani yang di keluarkan petani tumpang sari cabai dan tomat pada lahan 0,30sebesarRp 30,282,325,

          Produksi usaha tani tumpangsari tanaman cabai dan tomat  rata-rata yang di terima petani padalahan 0,30 Ha pada tanaman cabai sebesar 1,826 kg dan pada tanaman tomat 3,796 kg. Total penerimaan rata-rata padalahan 0,30 Ha petani cabai tumpang sari tomat dengan menggunakan mulsa sebesar Rp 154,219,773.

           Pendapatan petani yang di terima rata-rata sebesar Rp 123,937,448. R/C rata-rata yang di peroleh petani padalahan 0,30 Ha sebesar 5,31 maka usaha tani tanaman cabai tumpang sari dengan tomat menggunakan mulsa layak untuk di lanjutkan dan menguntungkan.

Analisis Komparasi Tingkat Pendapatan Petani Bawang Merah Sebagai Anggota KUD Dengan Yang Bukan Anggota KUD Margo Makmur (SHERLY AREKA DEWI (NPM : 14322411).

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN

 

            SHERLY AREKA DEWI (NPM : 14322411). Analisis Komparasi Tingkat Pendapatan Petani Bawang Merah Sebagai Anggota KUD Dengan Yang Bukan Anggota KUD Margo Makmur (Studi Kasus : Desa Sukomoro Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk). Dibawah bimbingan Ir. Eko Yuliarsha Sidhi, MP. (DPU) dan Ir. Widi Artini, MP. (DPA).

            Bawang merah merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura unggulan di Desa Sukomoro Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk. Tingkat pendapatan petani usahatani bawang merah di Desa Sukomoro berbeda. Salah satu penyebab perbedaan ini adalah adanya perbedaan keanggotaan Koperasi Unit Desa (KUD). Untuk mengetahui perbedaan tingkat pendapatan petani usahatani bawang merah di Desa Sukomoro yang disebabkan oleh perbedaan keanggotaan KUD, maka penelitian ini penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efisiensi petani bawang merah anggota KUD Margo Makmur dan non anggota KUD di Desa Sukomoro, mengetahui perbedaan pendapatan petani bawang merah sebagai anggota KUD Margo Makmur dan non anggota KUD di Desa Sukomoro.

            Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Stratified Random Sampling. Total petani anggota KUD Margo Makmur dan non-anggota KUD adalah 30 petani yakni 15 petani anggota KUD Margo Makmur dan 15 petani non-anggota KUD. Data dikumpulkan berupa data primer diperoleh melalui peyebaran kuisioner dan wawancara secara langsung  kepada petani anggota KUD Margo Makmur dan non-anggota KUD. Data sekunder diperoleh dari data anggota, profil desa serta sumber-sumber yang terkait. Untuk mengetahui tingkat efisiensi petani bawang merah anggota KUD Margo Makmur dan non anggota KUD menggunakan analisis efisiensi usahatani R/C ratio, dan untuk mengetahui perbedaan pendapatan petani bawang merah sebagai anggota KUD Margo Makmur dan non anggota KUD menggunakan analisis komparasi (uji t independen)

Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan dan saran sebagai berikut :

Total biaya yang dipergunakan petani bawang merah anggota KUD adalah Rp 23.874.200 dan petani non-anggota KUD adalah Rp 24.608.300,- . biaya ini meliputi biaya bibit, biaya pupuk dan obat-obatan, biaya tenaga kerja, biaya alat, biaya sewa lahan, dan biaya lain-lain. Peneriman petani bawang merah anggota KUD sebesar Rp 29.475.000,- dan petani non-anggota KUD sebesar Rp 30.030.000,-. Pendapatan atau keuntungan petani bawang merah anggota KUD adalah Rp 5.600.800,- dengan R/C ratio sebesar 1,24 dan untuk petani non-anggota KUD adalah Rp 5.421.700,- dengan R/C ratio sebesar 1,21. Usahatani bawang merah menguntungkan. Tingkat keuntungan usahatani petani bawang merah anggota KUD maupun non-anggota KUD secara statistik nilai t hitung sebesar 0,889 < t-tabel α 5% (2,048) yang berarti usahatani petani bawang merah anggota KUD lebih menguntungkan daripada petani non-anggota KUD secara signifikan. Perbandingan pendapatan usahatani petani bawang merah anggota KUD dan non-anggota KUD di Desa Sukomoro Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk diperoleh nilai t-hitung sebesar 0,124 < t-tabel α 5% (2,048) yang berarti pendapatan usahatani petani bawang merah anggota KUD lebih besar daripada petani non-anggota KUD secara signifikan.

Petani hendaknya melakukan kegiatan pertanian disesuaikan dengan unsur iklim guna mendapatkan hasil produksi yang maksimal. Perlu diberikan penyuluhan bagi masyarakat untuk pengelolaan usahatani bawang merah khususnya petani non-anggota KUD. Dengan menjadi anggota KUD banyak  keuntungan yang bisa di dapat seperti biaya pupuk dan obat-obatan yang lebih murah, mendapatkan peminjaman modal dengan bunga yang rendah, bisa meminjam saprodi sesuai kebutuhan dan membayarnya ketika panen, mendapatkan SHU setiap tahun, dan menambah pengetahuan serta pengalaman yang didapat ketika bergabung menjadi anggota KUD.

ANALISIS BIAYA DAN KEUNTUNGAN PADA AGROINDUSTRI TEPUNG TAPIOKA (PUPUT RATNA D.)

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN

              Puput Ratna DarmaYanti. (14322424). 2018. Analisis Biaya dan Keuntungan pada Agroindustri Tepung Tapioka. Pada Agroindustri tepung tapioka di Dususn Oro-Oro Ombo, Desa Pogalan, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek. Dibawah bimbingan oleh Ir.Widi Artini .Mp (DPU) Dan Ir. Joko Rahardjo, Mp (DPA) Fakultas Pertanian Universitas Kadiri, Kota Kediri.
                  Agroindustri Tepung Tapioka di Dusun Oro-Oro Ombo, Desa Pogalan, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek dalam menjalankan usahanya tidak pernah menghitung besarnya biaya, keuntungan, dan menghitung apakah usaha yang dijalankannya telah melampui BEP atau belum. Oleh karena itu perlu dilakukananalisis lebih lanjut mengenai Total biaya yang dikeluarkan, keuntungan, dan titik impas atau BEP.
                  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya total biaya variabel dan biaya tetap, untuk mengetahui besarnya keuntungan, danuntuk mengetahuiBEP Agroindustri Tepung tapiokadi Desa Pogalan. Metodeyang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan pendekatan Kuantitatif. Lokasi penelitian dipilih secarasengaja (purposive) yaitu Sentral Agroindustri Tepung Tapioka di Dusun Oro-Oro Ombo, Desa Pogalan, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek. Sedangkan penentuan sampel dipilih secara sensus dengan mengambil semua pengrajin tepung tapioka yang ada. Metode analisisdata yang digunakan adalah 1) perhitungan total biaya 2) perhitungan keuntungan 3) Break Even Point dalam unit dan Rupiah.
Hasil penelitian menunjukkan besarnya biaya yang dikeluarkan dalam satu kali proses produksi sebesar Rp. 3.058.428,-. Terdiri dari biaya tetap sebesar Rp 69.185,- dan biaya variabel sebesar Rp 2.992.771,-. Keuntungan yang didapat oleh agroindustri adalah sebesar Rp. 229.180,-. Sedangkan nilai BEP produksi sebesar 471 Kg. Harga jual tepung tapioka menurut BEP agar tidak menderita kerugian adalah sebesar Rp 6.058,-.

Kata Kunci : Biaya, Keuntungan, BEP