YUDISIUM FAKULTAS PERTANIAN TAHUN 2019

YUDISIUM FAKULTAS PERTANIAN TAHUN 2019

Agenda, Uncategorized

Pelaksanaan yudisium  Fakultas Pertanian Universitas Kadiri periode wisuda November 2019 dilaksanakan di Gedung Aula Universitas Kadiri, Minggu 27 Oktober 2019. Di yudisium ini Fakultas Pertanian Universitas Kadiri meluluskan 62 sarjana baru dengan rincian Jurusan Agribisnis sebanyak 30 Yudisiawan/wati dan Jurusan Agroteknologi sebanyak 32 Yudisiawan/wati.

Dalam sambutanya Ir. Widi Artini, MP memberikan pesan kepada segenap sarjana baru untuk memanfaatkan ilmu yang diperoleh selama menempuh masa studi di bangku kuliah dalam berkarir di dunia kerja. apalagi dengan adanya Revolusi Industri 4.0 diharapkan lulusan memiliki dayasaing yang tinggi sehingga tidak kalah sama lulusan dari Universitas Lain, baik untuk mencari kerja maupun berwirausaha.

Lebih lanjut dekan berpesan kepada para sarjana baru untuk segera masuk dalam jejaring alumni agar nantinya mendapatkan berbagai informasi yang bermanfaat dalam menjejakan langkah di dunia nyata.

FOOD FESTIVAL DIES NATALIS KE-39

FOOD FESTIVAL DIES NATALIS KE-39

Agenda

Kegiatan Dies-natalis Universitas Kadiri Ke-39 sudah memasuki kegiatan puncak, salah satunya kegiatannya adalah Food Festival yang di semarakkan oleh 6 stan dari berbagai fakultas di universitas kadiri. Kegiatan ini diadakan untuk menambah wawasan para peserta mengenai keanekaragaman Kuliner khas nusantara yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan agar masyarakat tidak bergantung kepada produk Luar dan makanan siap saji.

Muhamad Lutfi Syafi’i, 13322386, Proyeksi Kebutuhan Beras Lima Tahun Kedepan Berdasarkan Perkembangan Jumlah Penduduk Di Desa Blimbing, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri

Uncategorized

RINGKASAN

Muhamad Lutfi Syafi’i, 13322386, ”Proyeksi Kebutuhan Beras Lima Tahun Kedepan Berdasarkan Perkembangan Jumlah Penduduk Di Desa Blimbing, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri”. Fakultas Pertanian Universitas Kadiri. Di bawah bimbingan Ir. Eko Yuliarsha Sidhi,MP dan Ir. Widi Artini,MP.

Proyeksi adalah perhitungan yang menunjukkan keadaan fertilitas, mortalitas dan migrasi dimasa yang akan datang. Cepatnya pertambahan penduduk yang semakin banyak akan menjadi padat untuk tahun yang akandatang. Hal inijugaakanberdampakpadakebutuhan konsumsi beras yang semakin banyak seiring bertambahnya jumlah penduduk.Besarnya perubahan lahan pertanian ke non pertanian maka akan menjadikan penyusutan produksi pertanian sehingga dikhawatirkan akan terjadi kekurangan bahan pangan.

Metode dasar penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sensus. Metode sensus adalah suatu cara atau teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Daerah penelitian di Desa Blimbing Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri.Teknik pengumpulan data menggunakan Observasi dan Dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini mengunakan dasar-dasar Demografi pertumbuhan penduduk.

Hasil penelitian diketahui pertambahan penduduk Desa Blimbing Kecamatan Gurah kabupaten Kediri untuk lima tahun kedepan sebanyak 501 jiwa yang tergolong dari balita, anak-anak, dewasa, dan lansia. Untuk kebutuhan konsumsi pangan beras di Desa Blimbing selama lima tahun kedepan sebanyak 596.178.222kg dan untuk ketersediaan pangan beras di Desa Blimbing selama lima tahun kedepan sebanyak656.333.145 kg.

            Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan pertumbuhan jumlah penduduk Desa Blimbing sebesar 3,4% pertahun, dengan jumlah kebutuhan beras pertahun sebanyak 494.485,42. Dan prakiraan pada tahun 2022 kebutuhan beras sebanyak 596.178.222 kg.

KIKI MUQTASIDAH KHAKIM (NIM : 13312498). : Pengaruh Ukuran Umbi dan Kedalaman Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium cepa L.).

Uncategorized

RINGKASAN

             KIKI MUQTASIDAH KHAKIM (NIM : 13312498). : Pengaruh    Ukuran Umbi   dan   Kedalaman  Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium cepa L.). di bawah bimbingan Ir. Supanji, MP. (DPU) dan Ir. Mariyono, MP. (DPA).

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran umbi dan kedalaman tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah yang telah dilakukan dalam media polybag yang dilaksanakan pada bulan Januari hingga Maret. Percobaan faktorial dilakukan dalam Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. Faktor pertama, ukuran umbi terdiri dari tiga taraf, masing-masing : diameter umbi >1,8 ; 1,5 – 1,8 ; <1,5 cm. Faktor kedua, kedalaman tanam, terdiri dari dua taraf : ¾ badian umbi dan seluruh bagian umbi.

               Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara perlakuan ukuran umbi (S) dan perlakuan kedalaman tanam (D). Tetapi berpengaruh sangat nyata pada perlakuan ukuran umbi (S) pada pengamatan kecepatan tumbuh, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, berat kering dan berat basah umbi, tidak berpengaruh nyata pada perlakuan kedalaman tanam (D). Secara keseluruhan perlakuan ukuran umbi dengan diameter > 1,8 cm (S1) menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan umbi yang berdiameter 1,5 – 1,8 cm (S2) dan umbi yang berdiameter < 1,5 cm (S3).

Ruri Febriani (13322399), Analisis Komperatif Biaya dan Pendapatan Budidaya Tebu Sistem Tanam Baru dengan Sistem Kepras ( Studi Kasus di Ds. Tugurejo Kec. Ngasem Kab. Kediri ).

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN

Ruri Febriani (13322399), Analisis Komperatif Biaya dan Pendapatan Budidaya Tebu Sistem Tanam Baru dengan Sistem Kepras ( Studi Kasus di Ds. Tugurejo Kec. Ngasem Kab. Kediri ).

Biaya yang di keluarkan petani tebu sistem tanam baru dengan sistem kepras sama-sama relatif besar. Kenyataan nya petani tebu sistem tanam baru dengan sistem kepras mendapatkan areal tanamnya dengan harga sewa lahan yang cukup besar dan biaya produksi yang besar pula. Namun sejauh ini belum diketahui berapakah biaya dan pendapatan para petani tebu sistem tanam baru dengan sistem kepras.

Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui :

  • Untuk mengetahui perbandingan biaya antara hasil system bibit baru dengan system kepras.
  • Untuk mengetahui perbandingan pendapatan antara hasil sistem bibit baru dengan sistem kepras.

Penelitian ditentukan secara sensus di Desa Tugurejo Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri. Sengaja di pilih karena masih banyak terdapat petani tebu. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengamatan (observasi) dan sensus. Dimana seluruh sampel di daerah penalitian sebagai narasumber di wawancarai karena dianggap orang tersebut tahu dan memahami tentang tanam tebu sistem tanam baru dengan sistem kepras. Banyaknya petani dari seluruh sampel yang di ambil adalah sebanyak 26 petani, 13 petani tebu sistem tanam baru dan 13 petani tebu sistem kepras. Dari seluruh petani tersebut di ambil sebagai sampel.

Kesimpulan dari hasil penelitian yang diperoleh adalah :

  1. Tebu Sistem Tanam baru
  2. Biaya yang harus dikeluarkan petani tebu sistem tanam baru sebesar Rp 54.833.791 per hektar.
  3. Produksi tebu yang dihasilkan sistem tanam baru sebesar 1341 Kw per hektar.
  4. Penerimaan dari hasil produksi tebu sistem tanam baru sebesarRp 63.379.121 per hektar.
  5. Pendapatan petani tebu sistem tanam baru sebesar Rp 8.545.330 per hektar.
  6. Tingkat efisiensi usahatani tebu sistem tanam baru 1,16.
  7. Tebu Sistem Kepras
  8. Biaya yang harus dikeluarkan petani kepras sebesar Rp 46.214.286 per hektar.
  9. Produksi tebu yang dihasilkan sistem kepras sebesar 1154 Kw per hektar.
  10. Penerimaan dari hasil produksi tebu sistem kepras sebesar Rp 56.815.862 per hektar.
  11. Pendapatan petani tebu sistem kepras sebesar Rp 10.601.576 per hektar.
  12. Tingkat efisiensi usahatani tebu sistem kepras sebesar 1,23

AGUS PUJI LESTARI (13312544) Pemanfaatan Pupuk Organik Cair Untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)

Uncategorized

RINGKASAN

         AGUS PUJI LESTARI (13312544) Pemanfaatan Pupuk Organik Cair Untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) di bawah bimbingan Ir. MARYONO, MP (DPU)       dan Ir. PUTU NGURAH WIDJAJA, MP (DPA).

        Sawi merupakan komoditi sayuran yang memiliki nilai komersial dan prospek yang lumayan karena selain dari segi klimatologis, teknis, ekonomis, dan dari segi sosial juga sangat mendukung, sehingga memiliki kelayakan untuk di usahakan di Indonesia. Untuk memperoleh produksi sawi yang baik maka perlu tindakan kultur teknis yang sempurna. Tindakan kultur teknis mencakup pengolahan tanah yang intensif, penanaman yang baik dan pemeliharaan. Salah satu tindakan pemeliharaan adalah pemupukan. Pupuk yang diberikan tidak hanya pupuk kimia melainkan juga pupuk organik. Apalagi pada saat ini petani lebih banyak menggunkan teknologi organik. Pupuk organik cair merupakan salah satu yang banyak beredar di pasaran. Pupuk organik cair kebanyakan di aplikasikan melalui daun atau di sebut sebagai pupuk cair foliar yang mengandung hara makro dan mikro esensial (N, P, S, Ca, Mg, B, Mo, Cu, Fe, Mn dan bahan organik). Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat diantaranya dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosa sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman dan menyerap nitrogen dari udara. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui konsentrasi Pupuk Organik Cair Nasa yang tepat untuk pertumbuhan dan produksi pada tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Desain penelitian yang digunakan Penelitian ini menggunakan metode RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan satu Faktor (faktor tunggal), 6 perlakuan yaitu N0 (Kontrol), N1 (1ml/liter air), N2 (2 ml/liter air), N3 (3ml/liter air), N4 (4 ml/liter air) dan N5 (5 ml/liter air) 5 kali ulangan. Setiap ulangan pada masing – masing perlakuan terdiri dari 2 tanaman dan semua tanaman dijadikan sampel untuk pegamatan.

Dari penelitian ini diperoleh hasil analisa ragam pada umur 7 hst, 21 hst, dan saat panen yaitu hasil tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan  N2 (2 ml/liter air), yaitu 11,35 cm (7 hst),     28,192 cm (21 hst) dan 45,06 cm (saat panen), dan hasil terendah pada perlakuan N1 (1 ml/liter air) yaitu 10,066 cm (7 hst), perlakuan N5 (5 ml/liter air) 25,964 cm (21 hst) dan perlakuan N4 (4 ml/liter air) 41,64 cm (saat panen). Hasil Jumlah daun tertinggi yaitu pada perlakuan N2 (2 ml/liter air) dengan jumlah 4,80 helai (7 hst), 9,40 helai, dan 14,20 helai (saat panen), dan jumlah daun terendah pada perlakuan N5 (ml/liter air) yaitu 8,00 helai (7 hst), dan N1 (1 ml/liter air)  dan N5 (5 ml/liter air) yaitu 12,2 helai pada (saat panen). Hasil luas daun terluas pada perlakuan N5 (5 ml/liter air) yaitu 124,00 cm² dan terkecil pada perlakuan N1 (1 ml/liter air) yaitu 92,90 cm².Hasil berat basah pada saat panen dengan hasil tertinggi pada perlakuan N2 (2 ml/liter air) yaitu 183,2 gr dan hasil terendah saat panen pada perlakuan N0 ( Kontrol) yaitu 82,4 gr N1 (1 ml/liter air) yaitu 141,4 gr, N4 (4 ml/liter air) yaitu 129,6 gr,  N5 (5 ml/liter air) yaitu 130,0 gr tidak berbeda nyata.Hasil berat kering tertinggi pada perlakuan N5 (5 ml/liter air) yaitu 1,2 gr dan hasil berat kering terendah pada perlakuan N1 (1 ml/liter air)   yaitu 0,6 gr.

Hasil penelitian pengaruh pemberian konsentrasi Pupuk Organik Cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman Sawi (Brassica juncea L) disimpulkan bahwa, Perlakuan konsentrasi POC Nasa berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat basah dan berat kering tanaman.

ARISTASARI (NIM : 13312512). Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Produksi Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus).

Uncategorized

RINGKASAN

ARISTASARI (NIM : 13312512). Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Produksi Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Dibawah bimbingan Ir. Tjatur Prijo Rahardjo, MS. (DPU) dan Ir. Junaidi, MP. (DPA). Penelitian ini dilaksanakan di Jl Sultan Agung No.08, RT 01, RW 03. Desa Ketanon, Kec. Kedungwaru, Kab. Tulungagung. Pada daerah yang memiliki ketinggian antara 400-800 m dari permukaan laut (dpl). Percobaan dilaksanakan pada tanggal 10 Januari 2017 sampai dengan 29 April 2017. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui pengaruh media tanam terhadap produksi tanaman jamur tiram putih. Sedangkan hipotesisnya adalah Dengan penggunaan komposisi media tanam yang tepat akan diperoleh hasil produksi tanaman jamur tiram putih yang maksimal.

Penelitian ini merupakan percobaan faktor tunggal yang disusun berdasarkan rancangan acak lengkap (RAL). Faktor yang di coba (perlakuan) adalah komposisi media tanam yang terdiri dari 6 level yaitu :

  1. M1 : Serbuk Kayu Gergaji 1 kg + Bekatul 1ons
  2. M2 : Serbuk Kayu Gergaji 1 kg + Kulit Ari Kedelai 1 ons
  3. M3 : Serbuk Kayu Gergaji 1 kg + Ampas Tebu 1 ons
  4. M4 : Serbuk Kayu Gergaji 1 kg + Bekatul ½ ons + Kulit Ari Kedelai ½ ons
  5. M5 : Serbuk Kayu Gergaji 1 kg + Bekatul ½ ons + Ampas Tebu ½ ons
  6. M6 : Serbuk Kayu Gergaji 1 kg + Bekatul 1/3 ons + Kulit Ari Kedelai 1/3 ons + Ampas Tebu 1/3 ons

Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa pengaruh komposisi media tanam berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jamur tiram putih. Perlakuan komposisi media tanam berpegaruh nyata terhadap parameter (diameter batang dengan nilai 1,72 cm umur panen 45 hst, 1,24 cm umur panen 66 hst, dan 1,04 cm pada umur panen 81 hts), (jumlah tudung jamur 17 helai umur panen 45 hst, 15 helai pada umur panen 66 hst, dan 13 helai pada umur panen 81 hst), (luas tudung jamur 9,22 cm2 umur panen 45 hst, 8,21 cm2  umur panen 66 hst, dan 8,13 cm2 pada umur panen 81 hst), (berat basah jamur 117,43 gram umur panen 45 hst, 96,16 gram umur panen 66 hst, dan 91,95 gram pada umur panen 81 hst) dan berat kering jamur 10,52 gram umur panen 45 hst, 9,79 gram umur panen 66 hst dan tidak berpengaruh nyata terhadap berat kering pada umur panen ke 81 hst dengan hasil 8,52 gram.

Kata Kunci : Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus), serbuk gergaji, bekatul, kulit ari kedelai, ampas tebu

FAHMI MUZAIYANA (NPM : 13312548). Pengaruh Konsentrasi IBA dan BA Terhadap Multiplikasi Planlet Tanaman Kentang (Solanum Tuberosum L) Secara In Vitro.

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN

FAHMI MUZAIYANA (NPM : 13312548).  Pengaruh Konsentrasi IBA dan BA Terhadap Multiplikasi Planlet Tanaman Kentang (Solanum Tuberosum L) Secara In Vitro. Dibawah bimbingan Putu Ngurah Widjaja (DPU) dan Edy Kustiani (DPA).

             Percobaan bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh IBA dan BA berbagai taraf terhadap multiplikasi planlet tanaman kentang. Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan UPT. Kebun Benih Hortikultura Sidomulyo Batu, pada bulan januari sampai maret 2017. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial, terdiri dari 2 faktor yaitu IBA dan BA sehingga menghasilkan 16 kombinasi perlakuan. Analisis data menggunakan Anova yang dilanjutkan dengan DMRT 5%.

             Hasil penelitian yang diperoleh dari perlakuan IBA dan BA diberikan terhadap pertumbuhan tunas terbanyak pada I2B4 yaitu 5.67, pada pertumbuhan akar terbanyak pada I2B2 dan I4B1 yaitu 9.33, pada pertumbuhan daun terbanyak pada I3B2 yaitu 17, pada pertumbuhan planlet tertinggi pada I2B3 yaitu 11.87 cm, dan I3B3 yaitu 11.9 cm, dan pada berat basah planlet yang teroptimum pada perlakuan I2B2 yaitu 251.13 mg, dan berat kering planlet yang teroptimum juga pada perlakuan I2B2 yaitu 16 mg.

Fatkhul Munir, (13312505) PENGARUH DOSIS PUPUK ORGANIK KOTORAN SAPI PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BAYAM CABUT (Amaranthus L).

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN

Fatkhul Munir, (13312505) PENGARUH DOSIS PUPUK ORGANIK KOTORAN SAPI PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BAYAM CABUT (Amaranthus L). Bimbingan Ir. SUPANDJI, MP. (DPU) dan           Ir. SAPTORINI, MP. (DPA).

            Bayam merupakan tanaman semusim, berbentuk peredu atau semak yang banyak digemari oleh seluruh lapisan masyarakat di seluruh Indonesia. Tanaman bayam sebagai sayuran daun sudah lama dikenal masyarakat luas, karena pengaruhnya besar sekali dalam  kaitan dengan perbaikan ekonomi rumah tangga, khususnya penyediaan pangan bergizi dan juga sumber tambahan pendapatan (penghasilan) keluarga. Pusat penanaman bayam di Indonesia adalah Jawa Barat (4.273 hektar), Jawa Tengah (3.479 hektar), Jawa Timur (3.022 hektar).

Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh dosis kompos kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman  bayam cabut (Amaranthus Sp.)

Hipotesis diduga pemberian kompos kotoran sapi  dengan dosis 2 kg / polibag pemberian dosis terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman  bayam cabut (Amaranthus Sp.)

Percobaan dilakukan di greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Kadiri, Jl. Selomangleng No. 1 Kediri Jawa Timur – Indonesia. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dosis kompos kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan  produksi tanaman bayam cabut.

Percobaan  ini dilakukan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 ulangan dan 5 perlakuan. perbandingan  K1 : 1 kg Kompos dan 3 kg tanah, K2 : 1,5 kg Kompos dan 2,5 kg tanah, K3 : 2 kg Kompos dan 2 kg tanah, K4 : 2,5 kg Kompos dan 1,5 kg tanah, K5 : 3 kg Kompos dan 1 kg tanah.

Dari hasil percobaan ini dapat disimpulkan  bahwa tidak terjadi pengaruh yang nyata terhadap semua variabel pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman, jumlah daun,dan luas daun,serta terhadap produksi tanaman bayam berat basah dan berat kering.

JUNI RIANDOKO (14322412). Studi Komparatif Pendapatan Petani Nanas Sistem Mitra Tani dan Sistem Kerja Sama Usaha (KSU) di Lahan PTPN XII Kebun Ngrangkah Pawon Kediri (Studi Kasus di Desa Sepawon,Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri)

Penelitian Mahasiswa Agribisnis

RINGKASAN


JUNI RIANDOKO (14322412). Studi Komparatif Pendapatan Petani
Nanas Sistem Mitra Tani dan Sistem Kerja Sama Usaha (KSU) di Lahan PTPN XII Kebun Ngrangkah Pawon Kediri (Studi Kasus di Desa Sepawon,Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri)
, dibawah bimbingan Ir. WidiArtini, MP (Dosen Pembimbing Utama) dan Ir. Hj. Wiewik Andajani, MM(Dosen Pembimbing Anggota).
Kerja sama pertanian nanas di PT. Perkebunan Nusantara XII Kebun Ngrangkah Pawon Kediri adalah suatu kerjasama antara dua belah pihak yaitu pihak perkebunan sebagai pihak pemilik lahan pertanian yang menyiapkan lahan pertanian untuk disewakan kepada petani sebagai pihak penyewa lahan perkebunan sekaligus pihak penggarap untuk ditanami komoditi yang sudah ditentukan aturannya oleh pihak perusahaan salah satunya adalah komoditi hortikultura tanaman nanas dengan konsep kerja sama pemanfaatkan lahan perkebunan untuk tujuan menambah pendapatan perusahaan maupun pendapatan petani disekitar perusahaan yang menyewa lahan.
Dengan pemanfaatan dua tipe lahan perkebunan oleh perusahaan kepada petani disekitar area perkebunan, perusahaan berharap pendapatan perusahan maupun petani mengalami peningkatan sesuai dengan hasil pertanian dalam kerja sama antara dua belah pihak yang dipilih oleh petani sesuai dengan nota kesepakatan perjanjian bersama,
v selain itu perusahaan juga berharap dengan pemanfaatan lahan ini, tanaman pokok perusahaan akan terjaga dan aman dari perusakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Penentuan daerah penelitian ditentukan secara porposiv di Desa Sepawon Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Dipilihnya daerah ini karena Desa tersebut terdapat perusahaan negara (BUMN) Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang tanaman perkebunan yang dalam pengelolaannya ada kawasan lahan yang dijadikan tempat kerja sama antara pihak perusahaan yaitu PT. Perkebunan Nusantara XII Kebun Ngrangkah Pawon Kediri dengan petani disekitar wilayah Desa Sepawon dengan sistem Mitra Tani dan Sistem Kerja Sama Usaha (KSU).
Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui perbandingan tingkat pendapatan bersih petani nanas rata – rata per hektar lahan tanam, serta menyimpulkan efisiensi usaha tani (R/C Rasio) dan Kelayakan Usaha tani (B/C Rasio ) untuk dapat dikembangkan usahanya kedepan. Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang usaha tani nanas sistem mitra tani dan sistem kerja sama usaha (KSU) di lahan PT. Perkebunan Nusantara XII Kebun Ngrangkah Pawon Kediri, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
a. Total biaya produksi yang dipergunakan oleh petani nanas sistem  mitra tani adalah Rp. 66.291.050,- lebih besar dari pada biaya total produksi nanas yang dipergunakan oleh petani nanas sistem kerja
vi sama usaha (KSU) yaitu Rp. 57.474.333,33,-. Biaya ini meliputi biaya sewa lahan, biaya alat –alat produksi nanas , biaya bibit, biaya pupuk, biaya obat – obatan dan biaya tenaga kerja.
b. Produksi nanas rata rata per hektar untuk sistem mitra tani adalah 94.917 nanas sedangkan sistem kerja sama usaha (KSU) 80.000 nanas.
c. Penerimaan rata – rata per hektar petani nanas sistem mitra usaha adalah sebesar Rp. 110.264.583,33,- lebih rendah dari penerimaan petani nanas sistem kerja sama usaha (KSU) adalah sebesar Rp. 119.486.476,19,-
d. Pendapatan bersih atau keuntungan dari usaha tani nanas rata – rata per hektar untuk sistem mitra tani adalah sebesar Rp. 43.973.533,33,- lebih rendah dari pada keuntungan yang diperoleh petani nanas sistem kerja sama usaha (KSU) adalah sebesar Rp. 62.012.142,86,-

e. Efisiensi usaha tani nanas atau R/C Rasio untuk sistem mitra tani
adalah sebesar 1,64 lebih kecil dari pada R/C Rasio sistem kerja sama usaha (KSU) sebesar 2,08.
f. Kelayakan usaha tani nanas atau B/C Rasio untuk sistem mitra tani adalah 0,64 lebih kecil dibanding B/C Rasio sistem kerja sama usaha (KSU) sebesar 1,08 menyimpulkan bahwa usaha tani nanas sistem kerja sama usaha (KSU) lebih layak diusahakan dan dikembangkan.